Menjaga Nilai Aset di Tengah Inflasi: Cara Bijak Mengelola Uang agar Tidak Tergerus

Menjaga Nilai Aset di Tengah Inflasi: Cara Bijak Mengelola Uang agar Tidak Tergerus

Inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari harga bahan makanan, transportasi, biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga yang semakin mahal.

Jika tidak dikelola dengan baik, inflasi dapat membuat nilai uang menurun. Uang yang hari ini cukup untuk membeli banyak kebutuhan, bisa jadi nilainya tidak sama beberapa tahun ke depan. Karena itu, penting untuk memahami cara menjaga nilai aset di tengah inflasi agar kondisi keuangan tetap lebih aman dan terencana.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengelola uang secara lebih bijak, tidak hanya menyimpannya, tetapi juga mulai mempertimbangkan instrumen yang dapat membantu menjaga nilai aset. Melalui aplikasi DANA, kamu bisa mengenal berbagai fitur seperti DANA eMAS, DANA+, serta pilihan investasi seperti SBN, Obligasi, dan Reksa Dana yang dapat membantu kamu mengatur keuangan sesuai kebutuhan dan profil risiko.

cta banner dana blog

Mengapa Inflasi Bisa Memengaruhi Nilai Aset?

Inflasi membuat daya beli uang berkurang. Misalnya, uang Rp100.000 hari ini mungkin bisa digunakan untuk membeli beberapa kebutuhan harian. Namun, beberapa tahun ke depan, jumlah barang yang bisa dibeli dengan nominal yang sama bisa lebih sedikit karena harga sudah naik.

Hal ini penting dipahami karena menyimpan seluruh uang dalam bentuk tunai saja belum tentu cukup untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Uang tunai memang tetap dibutuhkan untuk kebutuhan harian dan dana darurat, tetapi untuk tujuan keuangan jangka menengah atau panjang, kamu perlu mempertimbangkan strategi lain.

Menjaga nilai aset bukan berarti harus langsung mengambil risiko besar. Yang terpenting adalah memahami tujuan keuangan, mengetahui kebutuhan likuiditas, dan memilih instrumen yang sesuai dengan kemampuan serta profil risiko masing-masing.

1. Mulai dari Mengatur Dana Darurat

Sebelum membahas investasi, hal pertama yang perlu disiapkan adalah dana darurat. Dana darurat berguna untuk menghadapi kondisi tidak terduga seperti kehilangan penghasilan, kebutuhan kesehatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendadak.

Dana darurat sebaiknya disimpan di tempat yang mudah diakses dan tidak terlalu berisiko. Dengan adanya dana darurat, kamu tidak perlu langsung mencairkan investasi ketika membutuhkan uang dalam waktu cepat.

Setelah dana darurat mulai terbentuk, barulah kamu bisa membagi aset ke beberapa instrumen lain untuk tujuan yang lebih panjang.

2. Gunakan Emas sebagai Salah Satu Pilihan Menjaga Nilai Aset

Emas sering dianggap sebagai salah satu aset yang dapat membantu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Meskipun harga emas bisa naik turun dalam jangka pendek, emas tetap banyak digunakan sebagai instrumen diversifikasi karena memiliki nilai yang dikenal luas.

Untuk mulai memiliki emas, kamu tidak harus langsung membeli dalam jumlah besar. Melalui fitur DANA eMAS, kamu bisa mulai membeli emas secara digital dengan lebih praktis melalui aplikasi DANA.

DANA eMAS dapat menjadi pilihan bagi kamu yang ingin mulai mengalokasikan sebagian dana ke emas secara bertahap. Misalnya, kamu bisa menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan untuk membeli emas digital sesuai kemampuan. Dengan cara ini, proses memiliki emas bisa lebih mudah dan tidak harus menunggu punya modal besar.

Namun, tetap ingat bahwa emas juga memiliki risiko perubahan harga. Karena itu, gunakan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi, bukan satu-satunya tempat menyimpan aset.

Baca juga: Investasi Emas – Pengertian, Cara Kerja, dan Hal yang Perlu Dipahami Pemula

3. Manfaatkan DANA+ agar Saldo Lebih Produktif

Selain emas dan investasi, kamu juga bisa mempertimbangkan fitur DANA+ di aplikasi DANA untuk membantu mengelola saldo dengan lebih optimal. DANA+ adalah fitur tambahan dari aplikasi DANA yang menawarkan kemudahan dalam bertransaksi, sekaligus manfaat berupa saldo yang bisa bertumbuh setiap hari. Menurut informasi resmi DANA, DANA+ menawarkan bunga harian sehingga saldo pengguna dapat menjadi lebih produktif.

Fitur ini bisa menjadi pilihan bagi kamu yang ingin memanfaatkan saldo digital tidak hanya untuk transaksi, tetapi juga untuk membantu pengelolaan keuangan harian. Saldo di DANA+ dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, seperti pembayaran belanja online, pembelian pulsa, hingga pembayaran tagihan.

Untuk mulai menggunakan DANA+, pengguna perlu mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu melalui layanan pelanggan DIANA di aplikasi DANA. Setelah aktif, pengguna dapat mengisi saldo DANA+ melalui menu Semua Layanan, memilih DANA+, membaca informasi detail, mengisi data yang dibutuhkan, memasukkan nominal saldo, lalu menyelesaikan transaksi sesuai instruksi di aplikasi.

Dalam konteks menjaga nilai aset di tengah inflasi, DANA+ bisa menjadi salah satu opsi untuk membuat saldo lebih produktif sambil tetap mudah digunakan untuk kebutuhan harian. Meski begitu, tetap pastikan kamu membaca detail informasi, manfaat, risiko, biaya, dan ketentuan yang berlaku sebelum menggunakan fitur ini. Dengan begitu, penggunaan DANA+ bisa lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan pribadi.

4. Pertimbangkan Reksa Dana untuk Tujuan Keuangan

Reksa Dana adalah salah satu instrumen investasi yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan keuangan, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga panjang, tergantung jenis produk yang dipilih.

Secara umum, Reksa Dana dikelola oleh manajer investasi. Dana dari investor akan ditempatkan ke instrumen tertentu sesuai jenis Reksa Dana, seperti pasar uang, obligasi, campuran, atau saham.

Melalui fitur investasi di aplikasi DANA, kamu bisa mulai mengenal pilihan Reksa Dana dengan lebih praktis. Instrumen ini cocok bagi pengguna yang ingin mulai berinvestasi tetapi belum ingin mengelola semuanya sendiri secara langsung.

Namun, setiap jenis Reksa Dana memiliki risiko yang berbeda. Reksa Dana pasar uang biasanya relatif lebih stabil dibandingkan jenis lain, sedangkan Reksa Dana saham memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi tetapi risikonya juga lebih besar. Karena itu, pilih produk sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.

5. Kenali SBN sebagai Alternatif Investasi

SBN atau Surat Berharga Negara adalah instrumen investasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Instrumen ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan negara.

SBN biasanya memiliki periode penawaran tertentu dan ketentuan yang berbeda tergantung jenis produknya. Ada SBN yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder, dan ada juga yang tidak bisa diperdagangkan hingga jatuh tempo.

Melalui aplikasi DANA, kamu bisa mengeksplorasi fitur investasi seperti SBN jika tersedia dalam periode penawaran. Instrumen ini dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang mencari alternatif investasi dengan karakteristik yang lebih terstruktur.

Sebelum membeli SBN, pastikan kamu memahami tenor, kupon atau imbal hasil, risiko likuiditas, pajak, serta ketentuan pencairan. Dengan begitu, kamu bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan dana di masa depan.

6. Pahami Obligasi untuk Diversifikasi Aset

Selain SBN, kamu juga bisa mengenal Obligasi sebagai salah satu instrumen investasi. Obligasi pada dasarnya adalah surat utang yang diterbitkan oleh pihak tertentu, seperti pemerintah atau perusahaan, dengan ketentuan pembayaran imbal hasil dan jatuh tempo tertentu.

Obligasi bisa menjadi bagian dari strategi diversifikasi aset, terutama bagi kamu yang ingin memiliki instrumen dengan karakteristik pendapatan tetap. Namun, obligasi tetap memiliki risiko, seperti risiko perubahan harga, risiko likuiditas, dan risiko penerbit.

Melalui fitur investasi di DANA, kamu bisa mempelajari pilihan Obligasi yang tersedia dan menyesuaikannya dengan kebutuhan. Jangan lupa untuk membaca informasi produk secara detail sebelum berinvestasi.

7. Diversifikasi agar Risiko Lebih Terkelola

Salah satu prinsip penting dalam menjaga nilai aset di tengah inflasi adalah diversifikasi. Artinya, jangan menempatkan seluruh dana hanya pada satu instrumen.

Kamu bisa membagi dana ke beberapa bagian sesuai tujuan. Misalnya:

  • Dana darurat untuk kebutuhan mendadak
  • DANA eMAS untuk alokasi emas digital
  • Reksa Dana untuk tujuan keuangan tertentu
  • SBN atau Obligasi untuk instrumen pendapatan tetap
  • Saldo harian untuk transaksi rutin

Dengan diversifikasi, risiko bisa lebih tersebar. Jika satu instrumen sedang mengalami penurunan nilai, kamu masih memiliki aset lain yang dapat membantu menjaga kestabilan keuangan.

8. Sesuaikan dengan Tujuan dan Profil Risiko

Tidak semua orang cocok dengan instrumen yang sama. Ada orang yang lebih nyaman dengan risiko rendah, ada juga yang siap mengambil risiko lebih tinggi untuk potensi hasil yang lebih besar.

Sebelum memilih instrumen, tentukan dulu tujuan keuanganmu. Apakah untuk dana pendidikan, membeli rumah, persiapan menikah, ibadah, pensiun, atau sekadar menjaga nilai aset dari inflasi?

Setelah itu, tentukan jangka waktunya. Tujuan jangka pendek sebaiknya menggunakan instrumen yang lebih stabil dan mudah dicairkan. Tujuan jangka panjang bisa mempertimbangkan instrumen dengan potensi pertumbuhan lebih besar, selama sesuai dengan profil risiko.

9. Pantau Aset Secara Berkala

Menjaga nilai aset bukan hanya soal membeli instrumen investasi, tetapi juga memantau perkembangannya. Kamu perlu mengecek apakah alokasi dana masih sesuai dengan tujuan awal.

Misalnya, jika harga emas naik cukup tinggi, kamu bisa mengevaluasi apakah perlu menambah, menahan, atau menyesuaikan porsi aset. Jika tujuan keuangan semakin dekat, kamu mungkin perlu memindahkan sebagian dana ke instrumen yang lebih stabil.

Dengan aplikasi DANA, kamu bisa lebih mudah mengakses fitur keuangan digital seperti DANA eMAS, DANA+, dan pilihan investasi dalam satu aplikasi. Hal ini dapat membantu kamu mengelola aset dengan lebih praktis.

Tips Menjaga Nilai Aset di Tengah Inflasi

Agar strategi keuangan lebih terarah, kamu bisa mulai dari langkah sederhana. Pertama, catat pengeluaran bulanan agar tahu berapa dana yang bisa dialokasikan untuk menabung atau investasi. Kedua, siapkan dana darurat sebelum mengambil risiko investasi yang lebih besar.

Ketiga, mulai dari nominal yang sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu punya uang besar untuk mulai mengelola aset. Keempat, pelajari setiap produk sebelum membeli. Pahami risiko, biaya, cara pencairan, dan potensi keuntungan.

Kelima, lakukan evaluasi secara berkala agar alokasi aset tetap sesuai dengan kondisi keuangan dan tujuan hidupmu.

Menjaga nilai aset di tengah inflasi penting dilakukan agar daya beli tidak terus tergerus oleh kenaikan harga. Selain mengatur pengeluaran dan menyiapkan dana darurat, kamu juga bisa mempertimbangkan berbagai instrumen keuangan sesuai kebutuhan dan profil risiko.

Melalui aplikasi DANA, kamu bisa mulai mengenal fitur seperti DANA eMAS untuk membeli emas digital, DANA+ untuk mengeksplorasi solusi keuangan digital, serta fitur investasi seperti SBN, Obligasi, dan Reksa Dana.

Dengan strategi yang tepat, pengelolaan aset bisa menjadi lebih praktis, terencana, dan relevan untuk menghadapi inflasi. Pastikan kamu selalu memahami risiko setiap produk sebelum mengambil keputusan, dan pilih instrumen yang paling sesuai dengan tujuan keuanganmu.

Berita Terkait

Download now!

Let’s transact with DANA #BukanDompetBiasa