logo-dana
Blog Article Detail
03 January, 2020

Pentingnya Peran SDM dan Infrastruktur Transaksi Digital

Financial Inclusion

"Sekarang adalah saat di mana untuk pertama kalinya Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara lain, yakni dalam industri tekfin (teknologi finansial). Kita pernah terlambat dalam pengembangan dan pemanfaatan Internet, dotcom, dan media sosial. Kita juga kalah start dalam pengembangan aplikasi mobile, tapi di bidang tekfin posisi Indonesia sama-sama berada di depan." – Vincent Iswara, CEO DANA



Vincent Iswara, CEO DANA


Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi ketika sebuah pasar tradisional di Desa Balerante, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mulai menghidupkan nadi perekonomiannya. Suasana pasar yang terletak di kaki Gunung Merapi itu tak berbeda jauh dengan suasana pasar pada umumnya—menyajikan ragam interaksi dan transaksi yang dilakukan oleh masyarakat berpenampilan tradisional. Ibu-ibu yang berkain dan berkebaya menata dagangannya, produk-produk makanan khas daerah setempat, sembako, dan hasil pertanian, untuk dibeli oleh masyarakat sekitar.


Namun ada yang unik di sana. Kegiatan bertransaksi di pasar itu tak lagi hanya mengandalkan uang tunai. Beberapa pedagang dan pembeli saling bertransaksi secara nontunai menggunakan dompet digital DANA di ponsel mereka. Ada pula pedagang yang memanfaatkan fitur transfer pada dompet digitalnya untuk mengirim uang kepada pemasok untuk membayar barang yang sudah dipesan.


Efisiensi menjadi salah satu alasan mereka mau bertransformasi ke budaya nontunai. Alasan lain adalah akurasi nilai uang untuk transaksi. Dengan dompet digital, mereka bisa menerima atau membayar dengan nilai yang sesuai, bahkan dengan nominal ganjil sekalipun. Tak ada lagi kerepotan mencari uang pecahan dan kembalian, tak ada pula pihak yang merasa dirugikan karena kembalian.


Dengan makin meluasnya pemanfaatan dompet digital di Indonesia, perlahan gaya hidup digital tak lagi hanya milik kaum urban, tapi juga masyarakat di pedesaan dan daerah terpencil. Kisah transformasi digital yang mulai berlangsung di kalangan masyarakat tradisional, terutama dalam mendorong transaksi nontunai, makin memantapkan optimisme akan menguatnya budaya baru berkegiatan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi.


“Teknologi digital dapat membuat kehidupan sehari-hari lebih efisien, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan waktunya dengan produktif. Menariknya, maraknya penerapan transaksi nontunai dengan dompet digital tidak lagi hanya menjadi kisah masyarakat urban atau kalangan milenia yang memang sudah memiliki literasi teknologi tinggi, tapi juga sudah mulai merambah ke kehidupan masyarakat tradisional yang oleh banyak kalangan sering disebut sebagai salah satu tantangan utama dalam mewujudkan Indonesia 4.0,” ujar Vincent Iswara, CEO DANA.


Infrastruktur Lokal Berteknologi Terdepan dan SDM Terbaik adalah Kunci Laju Inovasi dan Kompetensi Global


Pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan pemerintah disebut Vincent sebagai kunci berlangsungnya transformasi. Indonesia adalah negara yang besar dan sangat luas. Pembangunan infrastruktur menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan konektivitas, pemerataan distribusi barang dan jasa, serta menumbuhkan daya saing antardaerah di Indonesia.


“Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia telah melakukan banyak pembangunan infrastruktur fisik yang menakjubkan, seperti pembangunan jalan dan jembatan, jalur transportasi kereta api, serta bandara udara dan pelabuhan. Selain itu, pemerintah juga menggenjot pembangunan infrastruktur telekomunikasi melalui proyek Palapa Ring untuk membangun jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang merupakan kunci urat nadi perekonomian Indonesia, termasuk ekonomi digital,” ungkap Vincent.


Khusus di bidang ekonomi digital, ia menilai pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktur digital memiliki peran vital dalam mengakselerasi perubahan-perubahan besar dalam kehidupan masyarakat termasuk peningkatan inklusi finansial.


Merujuk data APJII, tingkat penetrasi internet di Indonesia saat ini sudah di atas 60%. Begitu pun dengan penetrasi smartphone yang terus meluas. Indonesia selayaknya makin optimistis dengan makin tingginya penetrasi Internet maupun teknologi digital lainnya jika melihat proyek Palapa Ring yang akan segera terealisasi. Apalagi Indonesia akan diuntungkan dengan adanya bonus demografi, di mana komposisi penduduk akan didominasi oleh generasi Internet of things yang memiliki budaya praktis, efisien, produktif, dan sangat mengandalkan teknologi digital.


“Proyek Palapa Ring menjadi kunci keberhasilan Indonesia memasuki Digital 4.0, dan menjadikan masyarakat Indonesia produsen digital, bukan konsumen digital,” ucap Vincent. “Adalah bagian tugas dari perusahaan teknologi lokal seperti DANA untuk membantu pemerintah dalam pengembangan infrastruktur digital. Kami di DANA sadar bahwa infrastrukturlah yang dapat menyatukan kita—bukan hanya menghubungkan banyak orang, tapi juga menyatukan niat serta gotong royong dalam membangun Indonesia. Bukan saja teknologinya, tapi juga sumber daya manusianya,” ucap Vincent.


Ia menyampaikan, itu pula yang menjadi landasan DANA, perusahaan teknologi rintisan lokal Indonesia dalam mengembangkan solusi di bidang finansial. “Kami menghadirkan DANA sebagai inovasi teknologi finansial yang dirancang memiliki kapabilitas luas. Tidak sekadar menjadi alat pembayaran elektronik, DANA dikembangkan sebagai infrastruktur transaksi digital bagi semua pelaku ekonomi, baik konsumen, pelaku usaha, maupun institusi finansial seperti perbankan. DANA adalah karya, gagasan, dan wujud dedikasi anak-anak muda terbaik Indonesia, untuk kemajuan serta kompetensi bangsa dan negaranya. DANA adalah teknologi dari, oleh, dan untuk Indonesia,” tutur Vincent.


Menurutnya, infrastruktur transaksi digital yang mumpuni serta terbuka untuk berintegrasi sinergis dengan beragam ekosistem memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional berbasis digital dan peningkatan kompetensi di kancah global, agar Indonesia berhasil menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia pada 2035 nanti.


Indonesia, Salah Satu yang Terdepan dalam Teknologi Finansial


Peluang untuk menjadi yang terdepan di dunia sangat terbuka bagi Indonesia, khususnya di dunia teknologi finansial (tekfin), di mana hampir semua negara memiliki start yang sama. Meskipun Tiongkok terlihat sudah berada di garis terdepan dalam membangun budaya nontunai dan nonkartu, namun sesungguhnya secara global semua negara masih mencari bentuk yang paling kompetitif.


“Sekarang adalah saat di mana untuk kali pertama Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara lain, yakni dalam industri tekfin. Kita pernah terlambat dalam pengembangan dan pemanfaatan Internet, dotcom, dan media sosial. Kita juga kalah start dalam pengembangan aplikasi mobile, tapi di bidang tekfin posisi Indonesia sama-sama berada di depan,” ungkap Vincent.


Ia bahkan melihat Indonesia termasuk negara yang berada di posisi terdepan di industri tekfin, jika melihat terobosan dari pemerintah dalam mengeluarkan QRIS (QR Indonesia Standar), kode QR standar yang dapat digunakan oleh semua pembayaran digital yang ada di Indonesia. QRIS merupakan kode QR standar pertama di dunia yang memungkinkan interkoneksi dan interoperabilitas antarpenyelenggara penyedia layanan pembayaran digital di Indonesia.


“Kami sangat bersemangat menyambut QRIS dan teknologi DANA pun telah siap untuk QRIS. Kehadiran QRIS selaras dengan misi DANA yang ingin menjadikan setiap pelaku kegiatan ekonomi di Indonesia makin produktif dan berdaya saing tinggi, sehingga ekonomi dapat berkembang signifikan,” ungkap Vincent.


Untuk mencapai misi tersebut, sejak awal dompet digital DANA didesain mampu memberikan kemudahan dan kecepatan, cerdas, akurat, dan terjamin keamanannya. Dompet digital ini dilengkapi dengan berbagai layanan dan kapabilitas untuk menunjang berbagai transaksi keuangan dan gaya hidup para penggunanya—bukan hanya untuk melakukan transaksi pembayaran digital, tapi juga efektif untuk mengirim uang, tarik tunai, serta menyimpan kartu debit dan kartu kredit. Ini merupakan terobosan baru di industri Teknologi Finansial yang dipelopori oleh DANA berkolaborasi dengan industri perbankan.


“Melalui teknologi dan inovasi yang kami hadirkan pada dompet digital DANA, kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa era teknologi digital 4.0 bukan hanya milik e-commerce atau pelaku bisnis online saja, tapi juga para pelaku usaha konvensional yang bertekad melakukan transformasi digital. Dengan DANA, mereka tak perlu merombak jenis usaha atau model bisnisnya, dan tak perlu khawatir dengan keamanan untuk dapat go digital,” kata Vincent.


Era teknologi digital 4.0 bukan hanya milik e-commerce, tapi juga para pelaku usaha konvensional yang ingin melakukan transformasi digital.


Jaminan Keamanan Bertransaksi Menjadi Kunci Kepercayaan


Selain kemudahan dan efisiensi, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan utama banyak orang untuk mau beralih ke gaya hidup digital. “Keamanan bagi DANA adalah kunci dan menjadi prioritas utama, sebab keamanan menjadi dasar terbangunnya kepercayaan pengguna. Karena layanan dan teknologi yang diberikan DANA menyangkut uang, maka meskipun mudah, solusi yang dihadirkan harus sangat aman,” ucapnya.


Ia memaparkan bahwa semua infrastruktur transaksi digital DANA berada di bawah pengawasan Bank Indonesia dan sudah memiliki sertifikasi PCI DSS (The Payment Card Industry Data Security Standard), yakni standar keamanan tinggi setingkat keamanan perbankan. Selain itu, DANA juga memiliki Data Center dan Data Recovery Center di Indonesia, yang mumpuni dalam menangani skalabilitas transaksi yang tinggi dan melakukan risk management untuk melindungi pengguna.


DANA juga memastikan keamanan para penggunanya dengan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri dalam hal pemanfaatan data kependudukan untuk proses verifikasi data pengguna dan validasi layanan. “Bagi kami, kerja sama dengan Dukcapil berdampak signifikan dalam mempercepat layanan dan mengantisipasi upaya pemalsuan data. Sementara bagi pengguna DANA, kerja sama ini dapat menghindarkan mereka dari kemungkinan penyalahgunaan data oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” Vincent menjelaskan.


Ia menambahkan, “Secara teknis, untuk melindungi pengguna, kami juga melengkapi dompet digital DANA dengan sistem pemindaian tercanggih dan teknologi Kode QR dinamis yang akan berubah dalam hitungan detik.”


Vincent berharap jaminan keamanan serta berbagai manfaat yang dihadirkan oleh layanan-layanan teknologi finansial di Indonesia, khususnya dompet digital DANA, mampu menjadi solusi dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi masyarakat, mendorong menguatnya kompetensi ekonomi digital, hingga membawa Indonesia menjadi salah satu negara dengan perekonomian digital terbesar di dunia.